Rabu, 12 Desember 2012

Guru Dan Pendidikan Akhlak

Dunia pendidikan mempunyai peranan penting dalam membina dan mendidik generasi muda yang beilmu, beriman dan berakhlak mulia. Untuk itu pendidikan akhlak menjadi penting dalam penerapan dan pelaksanaan kurikulum pendidikan.
Aceh sebagai bumi Serambi Mekah bercita-cita membangun dan mewujudkan pendidikan yang Islami sesuai dengan amanah pilar pendidikan Aceh. Terwujudnya pendidikan yang Islami bergantung kepada dasar pondasi yang kuat dan kokoh mengikut nilai-nilai filosofis pendidikan Islam. Tetapi realita pendidikan hari ini agak memprihantinkan sebagaimana keluhan masyarakat tentang kemerosotan akhlak pelajar. Hal ini di ungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Anas M Adam beberapa hari yang lalu dalam Seminar Pendidikan yang bertema “Melalui Peringatan Hari Guru, kita Wujudkan Guru yang Berkarakter Islami”.
Penulis berpandangan bahwa tema ini sebagai semangat, motivasi, dan perjuangan seorang guru dalam mendidik generasi muda yang berakhlak mulia. Guru yang berdisiplin, mempunyai misi dan visi, memiliki sifat kasih sayang, kreatif, inovatif, dan juga mempunyai kesadaran yang tinggi sebagai hamba Allah. Nilai-nilai di atas dimaknai melalui nilai-nilai filosofis pendidikan. Merujuk kepada sejarah filsafat Islam yang telah melahirkan guru-guru besar pendidikan Islam seperti Al-Kindi (801-973), Ibn Miskawaih (932-1030), al-Ghazali (1058-1111), dan lain-lainnya. Mereka telah memberikan kontribusi yang besar dalam pendidikan Islam khususnya mengenai konsep akhlak.
Al-Kindi dikenal sebagai bapak filsafat Islam yang pertama, beliau membuat perbandingan keadaan jiwa dengan hewan, apabila kemuliaan jiwa diingkari dengan kesenangan-kesenangan jasmani maka jiwa itu seperti hewan karena kecakapan afektif menguasai mereka. Namun, orang-orang yang menjadikan jiwa sebagai akal bagi tuannya maka ia perbandingannya seperti raja. Miskawaih menerangkan bahwa tujuan utama daripada agama ialah membangkitkan budi pekerti yang luhur. Al-Ghazali juga menjelaskan akhlak sebagai sifat yang tetap dalam jiwa, yang daripadanya timbul perbuatan dengan mudah, tanpa perlu kepada pikiran. Meraka berpikir dan mengkaji konsep akhlak secara mendalam melalui pemahaman konsep ruh dan jiwa.
Sejalan dengan pemikiran filosof di atas, kita harus berpikir apakah permasalahan pendidikan hari ini. Mengapa persoalan karakter pelajar terus mencuat. Apakah sistem pendidikan dan tujuan pendidikan yang tidak searah. Ataukah kemampuan guru yang kurang memadai. Semua persoalan ini harus dilihat seluk beluk nilai-nilai filosofis didalamnya, karena pendidikan hari ini menentukan kehidupan generasi muda sepuluh, dua puluh bahkan lima pulah tahun ke depan. Hal ini dapat dilihat bagaimana pengaruh pemikiran para filosof Islam sejak berabad-abad yang lalu terus dibicarakan sampai hari ini.

Kompetensi Guru
Pendidikan Islam bertujuan melahirkan manusia yang cerdas dan seimbang dari segi jasmani, rohani, emosi, dan intelektual sehingga menghasilkan manusia yang bertaqwa dan berakhlak mulia. Pembentukan dan pembinaan akhlak dalam pendidikan Islam mesti menitikberatkan keempat aspek tersebut. Aspek itu harus dilatih, diamalkan sejak kecil bahkan harus ditanamkan sejak masih dalam kandungan.
Namun seiring arah dan tujuan pendidikan hari ini yang lebih memfokuskan kepada aspek intelektual sehingga melahirkan generasi yang kurang siap menghadapi godaan hidup, khususnya yang memberikan kenikmatan jangka pendek tetapi memberikan kesengsaraan jangka panjang. Kecerdasan intelektual sebagai ukuran kepada masyarakat dalam menilai kecerdasan individu. Kecerdasan intelektual bersifat kuatitatif dan berakar pada jiwa pribadi yang terletak dibagian kiri otak. Individu yang dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual lebih menilai kenikmatan tubuh dan badan saja. Namun, itu semua tidak berarti kecerdasan intelektual tidak diperlukan. Sebaliknya ia adalah kesempurnaan bagi manusia menjalani kehidupan dengan visi dan misi yang lebih jelas.
Kecerdasan jasmani merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan persoalan fisik kehidupan. Ia dibarengi oleh kebijaksanaan jiwa yang memiliki tiga komponen besar, ‘fisik’ yaitu badan, ‘diri’ yaitu tempat kecerdasan intelektual dan emosi serta ‘jiwa’ yaitu tempat kecerdasan emosi. Keterkaitan satu sama lain di antara ketiga-tiga komponen itu adalah fakta yang tidak terbantahkan. Apabila ‘badan’ merasa tidak tentram, ‘diri’ dan ‘jiwa’ juga ikut tidak tentram. Kecerdasan emosi adalah kecerdasan yang lebih berhubungan dengan masalah-masalah ‘jiwa’ dan ‘diri sendiri’. Ia berasaskan ‘jiwa insan’ dan terletak di bagian kanan otak. ‘Jiwa insan’ adalah tempat kasih sayang, kreatif, dan inovatif. Dan terakhir kecerdasan rohani yaitu kecerdasan yang melebihi kecerdasan fisik dan jiwa, ia berakar pada ‘jiwa rahasia’ yang terletak di hati kerohanian yang bukan kebendaan. ‘Jiwa rahasia’ adalah tempat berzikir kepada Allah, mengabdi dan beribadah sesuai dengan perintah dan larangan-Nya.
Mewujudkan pendidikan yang islami harus dimulai pembinaannya dari diri sendiri. Pribadi yang mulia dan bermartabat adalah pribadi yang seimbang kecerdasan intelektual, emosi, jasmani, dan rohani. Maka hemat penulis, guru adalah pribadi yang mulia dan bermartabat maka hendaknya guru harus mempunyai dan memahami yang lebih mendalam empat kecerdasan itu. Dengan kecerdasan itulah guru akan mudah mendidik dan membina murid-muridnya, sehingga krisis akhlak yang meresahkan masyarakat dapat diminimkan bahkan dapat terselesaikan. Masyarakat juga harus menjadi pengontrol akhlak generasi muda. Kontrol sosial dari masyarakat dapat menjadi saran dan masukan bagi perkembangan pendidikan Aceh. Dan akhirnya cita-cita pendidikan Aceh menuju pendidikan Islami dapat terwujud dengan sendirinya.

Tidak ada komentar: